Benny Oentoro, Arek Suroboyo Pemilik Galeri Seni di Singapura

josstoday.com

Benny Oentoro sukses membangun galeri seni karya seniman Indonesia di Singapura.

JOSS.TODAY - Sebagian besar galeri seni di banyak tempat masih tiarap yang diprediksi akibat lesunya pasar senirupa beberapa tahun belakangan. Hanya bila jeli mengamati, ajang pameran internasional, studio dan galeri seni lainnya masih mengeliat, bahkan cukup atraktif membangun apresiasi.

Salah satunya Art Xchange di Singapura, galeri seni milik seorang pria kelahiran Surabaya, 5 Mei 1970. Benny Oentoro mendirikan dan mengelola galeri ini bersama sang istri Evelyn Sagita Kauw. Sekian tahun mengembangkan usaha galeri seni di Singapura, dua sejoli yang tinggal dan menetap di kawasan Stevens Road bersama sepasang buah hatinya, Isabelle Ariel Oentoro (10 tahun) dan Jasmine Callista Oentoro (5 tahun), kini tinggal menikmati kebahagiaan di dunia seni.

Kamis (19/3/2015) dinihari hingga menjelang subuh, Rully Anwar dari Joss.Today berhasil membujuknya untuk sebuah wawancara khusus di sela persiapan menjelang peresmian venue baru Galeri Art Xchange:

Tanya: Selamat pagi Pak Benny

Jawab: Selamat pagi, mas Rul.

T: Selamat atas pembukaan venue baru Art Xchange Gallery. Itu persisnya di mana? Dan kapan pembukaannya Pak?

J: Lokasi baru gallery kami berada di The Herencia, di daerah Robertson Quay. Kami mulai pindah sejak awal bulan ini, tapi Grand Opening-nya tanggal 28 Maret ini. Alamat tepatnya di 46 Kim Yam Road, 01-13 the Herencia, Singapore - 239351.

T: Pak Benn, itu dibanding lokasi lama yang saya hadir juga waktu itu, lebih luaskah? Venue lama seingat saya cukup menarik, ada di mall besar di pusat kota ya?

J: Oh yang sekarang, jauh lebih luas, mas Rul. Gallery baru kami luasnya 2x lebih besar dari yang lama. Posisi gallery lama di mall The Central, di daerah Clarke Quay. Lokasi gallery baru sebenarnya tidak jauh dari yang lama, tapi ukurannya lebih luas, sehingga kami jadi lebih leluasa untuk mendekorasi galerinya.

Selain dapat memajang lebih banyak lukisan, kami juga dapat menambahkan sofa, lemari buku dan TV 50" untuk kenyamanan pelanggan. Kami mendesain gallery baru dengan konsep rustic digabung moderen.

Dan desainnya juga agak beda dengan gallery white space pada umumnya. Kami membuat feeling-nya seperti rumah dan kantor agar pelanggan dapat merasakan bagaimana lukisan kalau dipajang seperti di rumah atau kantornya sendiri.

T: Joss banget!! Melalui FB, saya sempat mengikuti bagaimana venue baru tersebut sedang disiapkan. Seru. Apakah ada arsitek khusus yang ikut mendesain ruang baru galeri tersebut?

J:  Desain ruang saya yang merancang dari awal hingga akhir. Pemilihan bahan dan barang saya diskusikan dengan istri yang kebetulan sekolah di jurusan fashion design di LaSalle Singapura dan di Academy of Art, San Francisco. Saya juga berusaha menghemat biaya renovasi jadi ada bagian dari gallery lama yang saya bongkar sendiri dan pasang sendiri, seperti semua sliding system-nya. Istri dan staf saya yang lain juga mengecat seluruh ruangan gallery baru sendiri. Sampai-sampai kontraktornya merasa sungkan (segan, Red) melihat kami yang mengerjakan sendiri.

T: Oh ya, sangat menarik. Saya melihat kolaborasi yang menarik antara Pak Benny dan Nyonya. Bagaimana sebenarnya pembagian tugas dalam pengelolaan galeri?

J: Pembagian tugas dalam pengelolaan galeri, biasanya saya yang tugas lapangan, seperti terbang setiap bulan menemui seniman-seniman saya di Indonesia, melakukan QC (quality control, Red) karya seniman-senimannya, dan tukar pikiran tentang karya-karya ke depannya.

Istri saya bagian mengelola gallery dan mengurusi tugas-tugas kantor dari stok, keuangan dan anak buah. Tugas saya terus meningkatkan kualitas karya para seniman saya, mulai dari bahan sampai ke tehnik dan konsep. Bagi saya, paling penting para kolektor mendapatkan karya terbaik dari para senimannya. Saya mengejar kualitas bukan kuantitas, jadi biasanya saya tidak pernah mengejar target.

T: Salut. Semangat dan saling support Pak Benny dan Nyonya luar biasa. Memang akhirnya kepuasan pelanggan dalam hal ini kolektor adalah kuncinya. Saya lihat koleksi karya Art Xchange Gallery banyak diisi seniman terbaik Indonesia. Bagaimana kolektornya? Apakah lebih dominan Singapura?

J: Selama ini para kolektor kami lebih banyak dari berbagai manca negara selain Indonesia. Kami mengikuti berbagai pameran di berbagai penjuru dunia agar lebih banyak orang luar dapat mengapresiasi karya seniman Indonesia. Kami juga baru saja kembali dari pameran di Hong Kong.

Bulan depan kami akan menggelar pameran di New York untuk kali pertama. Kami selalu berusaha mencari tempat baru untuk memromosikan karya seniman Indonesia. Namun, dua tahun yang lalu, saya mengadakan pameran di Museum Vietnam, memamerkan karya-karya seniman senior Indonesia digabung junior, memberi kesempatan bagi para seniman muda berbakat Indonesia untuk muncul.

Waktu itu saya mengajak Pak Jim Supangkat untuk menjai kurator pamerannya. Kami juga mengadakan art seminar mengenai Indonesian contemporary art pada waktu itu.

Setelah itu Pak Jim bilang, seniman-seniman saya sudah banyak dikenal kolektor asing, tapi di Indonesia justru belum dikenal, berhubung saya belum pernah pameran di Indonesia. Sebab itu, saya akhirnya decided untuk ikut pameran Bazaar Art Jakarta di tanah air.

Ternyata responsnya luar biasa sekali. Sambutan dari para kolektor di dalam negeri tidak kalah hangatnya dari luar negeri. Karya seniman saya selama dua hari berturut-turut terpilih untuk ditayangkan di Kompas, padahal saingan banyak sekali dari galeri-galeri dan seniman-seniman kelas atas dari dalam maupun luar negeri. Saya sangat bangga dengan prestasi dari para seniman Indonesia.

Tahun ini, kami akan ikut Bazaar Art Jakarta lagi dan akan menyewa tempat dua kali lebih besar dari tahun lalu mengingat respons dan dukungan dari kolektor lokal sangat baik.

Saya yakin kualitas para seniman Indonesia adalah yang terbaik di Asia Tenggara, bahkan bisa jadi salah satu yang terbaik di dunia jika dipupuk dan dipromosikan dengan benar. Cibiran pada awal-awal justru membulatkan tekad saya untuk menunjukkan kemampuan mengharumkan nama para seniman Indonesia. Perjalanan masih panjang mas Rully, tapi kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Betul tidak?

T: Setuju. Saya masih ingat pada awal-awal bergelut di seni rupa, saat mulai mengelola galeri baru di Surabaya, Pak Benn sempat dicibir satu seniman lokal. Tapi, nyatanya Anda malah lebih agresif dan ekspansif di luar negeri mengharumkan nama Indonesia. Apa motivasi terbesar Anda?

J: Sebetulnya banyak gallery dan orang-orang senirupa lain yang awalnya meragukan kemampuan saya. Banyak yang bilang kalau visi dan misi saya bagus, tapi melawan arus. Namun, justru tantangan itulah yang menjadikan dorongan untuk menunjukkan bahwa saya bisa.

T: Saya termasuk yang mengamati betapa Anda belajar menikmati sekaligus memromosikan dan menjual karya seniman Indonesia dengan sangat bersemangat. Sekarang total sudah berapa tahun sudah di seni rupa? Betapa ratus kali Anda keluar masuk studio pelukis. Apakah semua itu tidak membuat Anda lelah sedikit pun?

J: Saya memang menikmati proses memromosikan karya seniman Indonesia dan para kolektor memuji kemajuan karya seni seniman saya setiap tahun. Itu yan membuat saya bangga. Kerja keras dan jerih payah saya selama ini artinya membuahkan hasil.

Lelah? Tentu saja. Saya sudah terbang ke sana ke mari dan melihat seniman melukis sampai kadang-kadang pukul 03.00 pagi, hingga ratusan kali. Energi saya banyak tersedot untuk itu mas Rully. Namun, kalau semua kerja keras saya ada hasilnya, rasanya semua jerih payah saya terbayar.

Susahnya tidak semua seniman bisa sama-sama sukses, walaupun segigih apapun kita memromosikannya. Saya rasa, seniman juga ada keberuntungannya masing-masing. Saya hanya berharap, mereka yang belum beruntung tetap bersemangat dan terus berkarya maksimal. Saya yakin, suatu saat nanti pasti ada waktu bagi mereka meraih sukses.

Asalkan senimannya memercayai, kami akan terus berusaha mencarikan jalan buat mereka masing-masing. Saya yakin jika di satu tempat kurang cocok, mungkin di tempat lain bisa lebih cocok peminatnya. Saling percaya itu penting. Sebab, jika senimannya sudah tidak bisa dipercaya dan tidak memercayai kami, percuma kerjasama ini diteruskan.

Saya dan seniman harus saling gigih bekerjasama untuk mencapai kesuksesan bersama. Kita semua, gallery, seniman, kurator, kolektor maupun balai lelang harus konsentrasi pada tugas dan tempatnya masing-masing untuk mencapai pasar sehat senirupa. Kalau berusaha untuk merambah ke yang lainnya, maka pasar akan gagal.

T: Sebagai penutup, satu pertanyaan lagi. Sekarang banyak pengelola galeri tiarap, Pak Benn malah ekspansif di ujung sana. Adakah Pak Benn melihat pasar akan menggeliat lagi dalam waktu dekat?

J: Ini masalah utama yang sedang dihadapi senirupa di Indonesia saat ini. Semuanya tergantung bagaimana kita menginginkan pasar segera membaik. Semua permainan di pasar membuat senirupa Indonesia hancur. Orang bermain di bubble yang akhirnya meletus, membuat pasar senirupa kita hancur.

Kebanyakan seniman sekarang merasakan kualitas tidak diperlukan lagi, yang penting konsep. Ini salah! Namanya juga visual art, bagaimana kok bisa visual-nya tidak penting? Visual sama pentingnya dengan konsep. Masalah di era kontemporer ini adalah masalah uang. Semua tamak dan ingin cepat kaya. Nah ini yang menjadi biang masalah senirupa kita sekarang ini. Seniman mau membuat banyak karya hingga menggunakan artisan.

Kualitas karya akhirnya turun dan banyak kolektor yang kecewa. Harga dipikir akan naik terus.

Namun, kalau kualitasnya saja jelek dan banyak goreng menggoreng, bagaimana harganya bisa naik? Saya rasa yang penting itu untuk menjaga kualitas. Juga lebih baik kolektor membeli dari gallery yang berusaha memromosikan senimannya.

Kalau beli langsung dari senimannya, gallery tidak akan mau memromosikan senimannya lagi. Kalau sudah begitu, siapa yang memromosikan senimannya? Kolektornya?

Saya rasa tidak.

Jadi ada baiknya kalau semua pihak tetap pada tugas dan posisi masing-masing serta berusaha tidak merambah ke posisi yang lainnya.(ra)

senilukis artxchange bennyoentoro seniman senirupa