Kunjungi Wamena, Mendikbud Pastikan Kegiatan Belajar Mengajar Kembali Normal

josstoday.com

Mendikbud Muhadjir Effendy berbincang dengan anak-anak sekolah dasar ketika mengunjungi Wamena.

JOSSTODAY.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengimbau agar kegiatan belajar mengajar (KBM) di Papua tidak boleh terhenti di tengah situasi konflik yang terjadi di Wamena dan Nduga, Papua. Tujuannya agar hak anak-anak Papua terhadap layanan pendidikan tetap terpenuhi demi masa depan mereka.

Hal itu dikatakan Muhadjir dalam kunjungan dua hari di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, pada 15 dan 16 Oktober. Dalam kunjungan tersebut, Muhadjir memastikan KBM kembali normal pascakonflik sosial di Wamena, Papua.

Sebagaimana diberitakan kegiatan belajar mengajar di Wamena sempat terhenti karena banyaknya bangunan sekolah yang rusak, dan terjadinya pengungsian para guru dan siswa ke luar Wamena setelah peristiwa tersebut.

Muhadjir mengapresiasi Bupati Jayawijaya, Jhon Robert Banoa yang menginstruksikan pada 7 Oktober 2019, KBM di Kota Wamena harus sudah dimulai. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati atas kerja kerasnya, kerusuhan pada tanggal 23 September sudah bisa diatasi, dan lebih khusus, anak-anak sudah bisa bersekolah seperti biasa," ujarnya.

Dalam kesempatan itu Mendikbud juga meminta kalau ada teman-temannya yang belum masuk sekolah harus diajak kembali, terutama dari luar yang masih mengungsi, yang belum tertampung supaya ditampung.

“Kalau ada anak dari Wamena yang sekarang keluar bersama orang tuanya supaya diajak, diminta balik ke Wamena," kata mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di tengah-tengah masyarakat Wamena yang hadir di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Wamena, Selasa, 15 Oktober 2019.

Kepala Sekolah SMPN 1 Wamena, Yemima Kopeuw menuturkan, KBM di sekolahnya sudah kembali normal sejak 7 Oktober 2019. Namun, dari total 1.097 murid hingga saat ini baru 241 siswa yang kembali ke sekolah. "Aktivitas sekolah mulai 7 oktober, kegiatan belum penuh belajar mengajar, masih diselingi dengan permainan. Total guru 54, yang masuk baru 24 orang, yang tidak hadir masih menenangkan diri di luar Wamena," katanya.

Hal serupa disampaikan Kepala SMPN 2 Wamena, Kornae Paragaje. Dia mengatakan, pada saat konflik terjadi para guru dan siswa merasa ketakutan hingga mengungsi keluar Kota Wamena, seperti ke Jayapura, Merauke hingga luar Papua.

"Kejadian pada 23 September itu, membuat kami, semua guru dan siswa semua lari. Dari 30 guru yang ada di sekolah kami, saat ini hanya 10 guru yang tersisa. Sekolah kita dirusakin, semua kaca-kaca hancur," ungkap Kornae sambil menambahkan saat ini masih ada 5 guru SD, 60 guru SMP, 59 guru SMA, dan 30 guru SMK yang masih mengungsi.

Merespons hal tersebut, Mendikbud Muhadjir menyebutkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk menjamin keselamatan dan keamanan guru, tenaga kependidikan, dan siswa di daerah konflik di Papua. "Insya Allah sudah aman. Kapolres sudah menjamin keadaan di Wamena sudah membaik," katanya.

Pada hari kedua 16 Oktober 2019, Muhadjir meninjau beberapa sekolah terdampak kerusuhan. Di antaranya TK Mutiara Hati, SMP YPPK St. Thomas, SMPN 1 Wamena, dan SMAN 1 Wamena. Dari empat sekolah tersebut, SMP YPPK St. Thomas merupakan sekolah terparah kerusakannya, salah satu bangunannya, yakni ruangan kepala sekolah habis dibakar massa saat terjadinya kerusuhan.

Mengenai kondisi sekolah yang rusak, Muhadjir berkomitmen untuk merehabilitasi sekolah-sekolah yang rusak akibat kerusuhan di Wamena untuk menjamin terselenggarannya proses belajar mengajar di sekolah.

Di Kota Wamena, dari 50 satuan pendidikan yang ada, 23 di antaranya mengalami kerusakan. Sebanyak lima Sekolah Dasar (SD), 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP), lima Sekolah Menengah Atas (SMA), dan tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengalami kerusakan ringan dan sedang, seperti kerusakan pada kaca jendela ruang kelas, pintu, papan nama sekolah. Satu ruangan Kepala SMP YPPK St. Thomas dilaporkan habis dibakar.

"Beberapa fasilitas yang mengalami kerusakan parah akan segera kita tangani, kalau kerusakannya ringan saya kira bisa ditangani Pemkab Jayawijaya", ujar Muhadjir.

Muhadjir juga menuturkan, Kemdikbud bekerja sama dengan World Vision Indonesia (WVI), Kementerian Sosial, TNI, Polda, dan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) akan melakukan konseling dan trauma healing bagi guru dan siswa korban konflik sosial. Kegiatan akan terus dilakukan hingga waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan tercukupi.

Sementara itu menangani kesehatan dan gizi anak-anak Papua, Muhadjir memastikan Program Anak Sehat (Progas) yang telah dilucurkan tahun lalu akan diperluas hingga seluruh daerah di Papua, dan meminta Dinas Kesehatan untuk memberikan vitamin agar anak terjamin kesehatan.

"Nanti saya koordinasi dengan Bu Menkes (Menteri Kesehatan Nilam Moeloek-red) untuk memberikan makanan tambahan dan vitamin agar gizi anak Papua terjamin, kemudian program sarapan sehat di sekolah juga dijalankan," tuturnya. (is/b1)

Mendikbud pendidikan Pendidikan Wamena