Mahasiswa KKN 46 UMM Sulap Biji Salak Jadi Kopi Berkhasiat

josstoday.com

Proses Pelatihan Pengolahan Biji Salak menjadi Kopi dari KKN 46 UMM di Balai Desa Wonorejo, Kabupaten Malang.

JOSSTODAY.COM - Potensi pertanian buah salak di Desa Wonorejo, Kabupaten Malang, begitu melimpah. Namun, salah hanya dimanfaatkan bagian buah untuk dapat mendapatkan penghasilan sehari-hari. Dari itu, buah ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa KKN 46 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengolah biji buah salak menjadi bubuk kopi.

Di bawah bimbingan Dra. Dewi Nurjannah, M.M para mahasiswa dengan telaten memberikan penyuluhan kopi biji salak kepada warga sekitar dalam beberapa tahap. Penyuluhan dalam beberapa tahap itu bertujuan agar tahap per tahap dapat dilakukan dan dipraktikan dengan benar.

Penyuluhan ini merupakan salah satu program kerja divisi Ekonomi untuk mengembangkan hasil sumber daya alam yang dapat menjadi ladang  usaha unik dan menjual ditengah pesatnya penikmat makanan/minuman unik. Materi diisi oleh Melinda Dwi Permatasari mahasiswa dari Ilmu dan Teknologi Pangan dan Firmansyah Adiputra Ekonomi Syariah UMM.

Kopi biji salak ini dinilai tidak hanya memiliki rasa yang nikmat, namun memiliki banyak khasiat. Dari segi kandungannya, kopi biji salak memiliki anti oksidan yang bermanfaat bagi kesehatan untuk menangkal radikal bebas. Serta, kopi ini juga cocok bagi anda yang memiliki riwayat penyakit asam lambung karena kandungannya yang rendah kaefin.

Cara membuat kopi biji salak itu sendiri cukup mudah. Prosesnya dimulai dengan pengumpulan biji salak pondoh yang kemudian dipotong kecil-kecil seukuran kerikil. Selanjutnya, potongan biji salak tersebut dicuci dan dijemur di bawah sinar matahari secara normal dalam 2-3 hari, namun bias juga kering dalam 1 hari ketika panas matahari sedang terik. Kemudian, apabila biji salak sudah kering akan dilanjutkan dengan menyangrai biji kering tersebut menggunakan wajan tanah liat untuk mengeluarkan wangi dari biji salaknya sekaligus meratakan warna dari kopi biji salak tersebut.

Salah satu hal yang penting selama proses pembuatan kopi biji salak adalah proses penyangraian karena biji salak tersebut harus dipastikan sampai berwarna hitam gosong, namun masih ada kecoklatan barulah bisa diangkat. Pastikan jangan sampai terlalu gosong. Apabila terlalu gosong maka rasanya akan pahit dan baunya tidak khas seperti bau salak. Selanjutnya, tumbuk menggunakan lesung dan ayak menggunakan 2 ayakan yaitu yang sangrai besar dan sangrai paling kecil. Lalu dimasukkan hasilnya ke proses packaging dan masukkan ke dalam plastik berukutan 50g serta berikan label Coffee 46.

“Nantinya sebelum berakhirnya masa KKN, kami ingin melakukan serah terima kopi biji salak untuk diolah dan dijual di Desa Wonorejo. Jadi saat acara penutupan nanti kami sekaligus melakukan launching kopi biji salak”, ungkap Melinda, salah satu pemateri dari penyuluhan biji kopi salak.

Respon dari peserta pun sangat positif terhadap inovasi biji kopi salak yang satu ini. Banyak warga yang ingin sekali terus dibimbing untuk pembuatan kopi biji salak tersebut. Tak hanya itu, warga pun secara sukarela mengundang KKN 46 UMM untuk memberikan materi mengenai biji kopi salak dalam acara ibu-ibu PKK. “Rasanya enak seperti kopi tapi ada salaknya. Kalau kopi ini saya berani minum mbak karena kafeinnya rendah”, ungkap Bu Susi, salah satu anggota PKH yang menjadi peserta dalam penyuluhan kopi biji salak.

Seiring berjalannya waktu, warga dari Desa Wonorejo ikut menyumbangkan ide untuk berinovasi dengan mencampurkan kopi biji salak dan coklat. Selain itu, dalam waktu dekat ini, KKN 46 UMM dan juga warga akan segera meresmikan kopi biji salak sekaligus mendiskusikan terkait harga jual dan label dari produk kopi biji salak.

Setelah adanya pengembangan biji salak dari mahasiswa KKN 46 UMM, diharapkan nantinya masyarakat Desa Wonorejo dapat mengembangkannya secara mandiri, bahkan diinovasi dengan berbagai rasa yang unik. Manfaat jangka panjang dapat meningkatkan perekonomian masayarakat Desa Wonorejo dan siap bersaing dalam hal pengelolaan dibidang kuliner. Selain itu dapat mengurangi sampah serta memberikan inspirasi untuk memanfaatkan limbah-limbah yang tidak bermanfaat menjadi produk yang menjual. (ais)

UMM Salak Kopi Salak