Ternyata, Fogging Kurang Efektif Atasi DBD

josstoday.com

JOSSTODAY.COM - Selama ini, banyak pihak yang berpikir bahwa fogging merupakan cara paling ampuh untuk menghindari penyebarab demam berdarah dengue (DBD). Padahal, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, Anung Sugihantono menyatakan, untuk pengendalian vektor nyamuk sejauh ini pemberantasan sarang nyamuk (PSN) adalah cara paling efektif dibanding fogging. Fogging hanya bertujuan menurunkan populasi nyamuk dewasa, tetapi tidak 100% mengendalikan DBD.

Selain itu, fogging yang mengandung pestisida dan bahan kimia lainnya juga dinilai membawa dampak negatif. Namun, fogging tetap dibutuhkan karena ini adalah cara paling cepat untuk mengurangi populasi nyamuk dewasa yang berpotensi menularkan virus DBD.

Kepada Beritasatu, Rabu (6/2), Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemkes, dr Siti Nadia Tarmizi  menambahkan, fogging tetap efektif untuk mengatasi DBD, tetapi daya ungkitnya kurang maksimal karena populasi nyamuk di musim penghujan jauh lebih besar. Selain itu, kata dia, ada standar pemantauan terhadap pelaksanaan fogging. Terdapat komisi khusus yang bertugas memonitor penggunaan insektisida, mana yang aman untuk manusia atau hewan.

Selain itu, pelaksanaan fogging dilakukan dengan mempertimbangkan resistensi di sebuah daerah. Setiap satu tahun atau tiga tahun sekali, bahan-bahan fogging diganti tergantung resistensi di daerah yang bersangkutan.

Nadia menambahkan, selain menghindari gigitan nyamuk, yang harus dilakukan oleh masyarakat adalah memberantas sarang nyamuk. Karena itu masyarakat harus mengetahui di mana saja jenis sarang nyamuk agar tidak salah sasaran. Ini penting, karena setiap tempat berpotensi menjadi sarang nyamuk bila terdapat genangan air.

“Ada banyak sarang nyamuk yang harus dikenali terutama di rumah kita. Masyarakat harus mengetahuinya agar tidak salah sasaran dalam memberantas sarang nyamuk,” katanya.

Tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk di rumah adalah bak kamar mandi dan toilet, tempat penampungan air, air jebakan semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung yang jarang diganti, pot bunga, dan dispenser air minum (wadah limpahan airnya). Barang bekas di sekitar rumah, seperti ban, kaleng, batok kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, dan semua tempat yang bisa menampung air juga berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Kami imbau masyarakat jangan sampai membiarkan air tergenang di tempat-tempat itu. Kalau bak mandi harus lebih sering dikuras agar tidak ada jentik nyamuk. Ada jentik berarti kita terancam DBD,” katanya.

Menurut dia, 1 jentik betina dalam 12–14 hari akan berubah jadi nyamuk dewasa. Satu nyamuk betina dewasa sekali bertelur menghasilkan 100-150 butir telur. Dalam sebulan nyamuk bisa bertelur kurang lebih 4 kali. Jadi dalam sebulan nyamuk bisa bertelur antara 400 sampai 600 telur.

Karena itu, jangan salah sasaran dalam melakukan PSN. Bukan dengan memotong pohon, bersih-bersih rumput, menata bunga, dan lain-lain, karena jentik tidak bersarang di rerumputan. (gus/b1)

 

DBD demam berdarah