Format Debat Terbuka Diharapkan Cerdas dan Mendidik, Bukan Ajang Nyinyir

josstoday.com

Calon presiden pasangan nomor urut satu Prabowo Subianto (kiri) bersama calon presiden pasangan nomor urut dua Joko Widodo (kanan) dan moderator Hikmahanto Juwana (tengah) bersiap mengikuti acara Debat Capres 2014 putaran ketiga di Jakarta, Minggu (22/6). Debat tersebut mengangkat tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional.

JOSSTODAY.COM - Argumentasi dari masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam debat pertama terkait tiga tema sangat dinanti publik. Diketahui, tiga tema tersebut yaitu persoalan hak asasi manusia (HAM), korupsi, dan terorisme.

“Argumentasi kandidat ditunggu publik. Masyarakat ingin lihat dan dengar gagasan orisinil dan komitmen kandidat tentang HAM, korupsi, dan terorisme,” kata pakar komunikasi politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno kepada SP, Senin (7/1).

Menurutnya, debat sepatutnya menjadi pembelajaran demokrasi yang positif. Hal itu berlaku tidak hanya bagi pasangan Joko Widodo-Maruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Melainkan juga untuk pemilih. Dikatakan, model pertanyaan tertutup yang diajukan jauh hari memang kurang menarik.

Meski begitu, masing-masing pasangan justru harus menyiapkan jawaban yang benar-benar substansial. “Jawabannya mesti utuh, dipahami publik, dan cerdas secara politik. Publik wajib diajak diskusi tentang hal-hal ilmiah. Kalau sebatas nyinyir, maka jelas itu tidak rasional,” ujarnya.

Ia mengkhawatirkan debat menjadi ajang saling menyerang personal atau pribadi kandidat. Akhirnya, debat tidak produktif. Kerangka pemikiran tentang tiga tema tak disampaikan secara matang. “Debat bukan tempat cari pembenaran. Poin-poin penting harus dijelaskan,” ucapnya.

Ia menyatakan, kalangan pemilih yang belum menentukan pilihan akan menanti debat. Apabila terlalu banyak serangan pribadi, lanjut Adi, muncul kesan negatif bagi kategori pemilih tersebut. “Kalau debat yang muncul sifatnya artifisial, tidak mendidik, justru timbulkan apatisme,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Jakarta, Silvanus Alvin mengatakan, moderator berperan penting untuk memandu debat supaya tidak saling menjatuhkan. “Moderator wajib mengarahkan kandidat sesuai konteks dari debat,” kata Alvin.

Di banyak negara seperti Amerika Serikat (AS), ia mengungkapkan, debat itu sarana menyampaikan gagasan. Selain itu juga untuk menggaet pemilih yang masih mungkin mengalihkan dukungan dan belum menentukan sikap “Debat ini ajang mengambil simpati pemilih. Jangan sampai saling serang,” harapnya. (is/b1)

Debat capres