Maiyah Gerakan Senyap Pencipta Kondusifitas Bangsa

josstoday.com

Ketua PIH UNAIR, Dr Suko Widodo. (Josstoday.com/Fariz Yarbo)

JOSSTODAY.COM – Rasa aman dan nyaman merupakan hal wajib yang dirasakan oleh masyarakat di lingkungannya. Selama ini masih ada beberapa kondisi karena berbagai hal yang mengancam keamanan lingkungan. Salah satunya adalah faktor komunikasi.

Karena itu, Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga berkolaborasi dengan Amsterdam Institute of Social Sciense Research (AISSR), University of Amsterdam, Belanda menggelar Simposium Regional bertajuk “Decoding the Labyrinth of Conflict: Menggali Pembelajaran Resolusi Konflik Pasca Reformasi dari Gerakan Maiyah Nusantara” di Ruang Adi Sukadana Gedung FISIP UNAIR, Surabaya, Kamis (29/11/2018).

Ketua PIH UNAIR, Dr Suko Widodo menjelaskan, acara ini merupakan bentuk kepedulian civitas akademika di lingkungan Unair dan sekitarnya, serta pengembangan tradisi collaborative research dan collaborative engagement yang selama ini telah dilakukan antara dunia akademik dengan civil society dalam upaya penciptaan rasa aman, toleransi atas keberagaman, dan pencegahan berbagai potensi konflik dan bencana sosial maupun bencana alam di tengah-tengah masyarakat.

Pria yang akrab disapa Suko itu memaparkan, jika akhir-akhir ini, keamanan, integrasi, dan keutuhan kehidupan bermasyarakat dalam berbangsa dan bernegara kembali diuji dengan gejolak alam dan gejolak sosial yang intensitasnya semakin mengkhawatirkan.

“Di satu sisi, penduduk bumi Nusantara tidak bisa mengelakkan fakta bahwa mereka hidup di atas rangkaian “the ring of fire” yang menuntut seluruh elemen bangsanya memiliki kesiapan dan formula preventif untuk meminimalisir ancaman natural disasters yang setiap saat mengintai dan siap memporak-porandakan tatanan sosial yang ada dalam sekejap,” paparnya.

“Di sisi lain, harmoni sosial yang ada sering sekali terancam oleh social disasters berupa konflik antaretnis, antaragama, dan antarkelompok atau golongan karena penduduknya banyak yang alpa akan fakta Bhineka Tunggal Ika bahwa Indonesia adalah satu dari tidak banyak negara yang memiliki keragaman etnis, budaya dan agama yang luar biasa,” imbuhnya.

Atas dua ancaman ini, negara dan perangkatnya dan aktor-aktor di luar negara, seperti ormas, parpol, LSM, kaum intelektual, rohaniawan, dan unsur kelompok masyarakat lain) telah melakukan banyak hal, baik yang bersifat preventif, kuratif, maupun afirmatif. Bahkan, sejak era reformasi yang sudah bergulir selama dua dekade, lembaga diluar pemerintah telah mengambil peran yang sangat luas seiring dihilangkannya Dwifungsi ABRI, proses demokratisasi, dan desentralisasi.

Dalam konteks ini, Gerakan Maiyah Nusantara yang hadir dan berkembang pesat sejak era reformasi, dinilai mampu menjalankan sebuah alternatif baru yang ternyata menyentuh aspek pengamanan dan pencegahan konflik yang selama ini tidak banyak “digarap” oleh oleh pamarintah maupun ormas.Yakni “pengamanan ruang berpikir”.

“Shifting orientation yang dilakukan Gerakan Maiyah Nusantara adalah khazanah keilmuan baru yang layak dielaborasi lebih detail dan lebih jauh sebagai sebuah tawaran resolusi konflik dengan prinsip pencegahan konflik sebagai upaya preventif. Upaya resolusi konflik dengan prinsip preventif semacam ini, adalah upaya yang “sepi” dari glorifikasi dan kepahlawanan, namun wajib ada yang melakukannya. Sebab kerugian material maupun immaterial dari sebuah konflik sosial terbuka, terlalu mahal harganya,” jelas Suko.

Suko yang kerap mengikuti berbagai kegiatan Maiyah, mengaku jika gerakan ini dapat menciptakan hubungan harmoni. Di mana, Maiyah menggunakan pendekatan logika, etika, dan estetika yang mengedepankan sifat inclusive community engagement dan manajemen pengorganisasian sosial yang bersifat akulturatif sekaligu enkulturatif. (ais)

UNAIR Maiyah Suko Widodo