Pengamat: Sandi Incar Suara Milenial, Ma'ruf Amin Suara Tradisional

josstoday.com

JOSSTODAY.COM - Penetapan Calon Wakil Presiden yang berlangsung cukup lama akhirnya membuahkan keputusan baru. Ada kepentingan elektoral menjadi salah satu faktor utama kali ini.

Pada koalisi Joko Widodo yang terdiri atas PDI Perjuangan, Hanura, Nasdem, Golkar, PPP, PSI, PKB, dan Perindo akhirnya memilih Ketua Umum MUI, KH Ma'ruf Amin sebagai Cawapres. Sementara pada koalisi Prabowo Subianto yang terdiri atas Partai Gerindra, PAN, PKS, Demokrat, dan Berkarya akhirnya memilih Sandiaga Uno.

Pengamat politik asal Universitas Airlangga, Dr Suko Widodo, menjelaskan jika kedua Cawapres memberi dampak elektoral yang berbeda.

"Pilihan terhadap Ma’ruf Amin, dengan pertimbangan ingin meraup dukungan sebesarnya dari kaum muslim. Pak Ma’ruf dinilai sebagai representasi mayoritas kaum muslim, dan orangnya moderat," jelas Suko saat dihubungi, Jumat (10/8/2018).

Tak hanya itu, menurutnya jika KH Ma'ruf Amin akan memberikan suara dari kaum tradisional yang umurnya lebih dari 40 tahun.

Selain itu, Suko mengatakan jika terpilihnya KH Ma'ruf Amin merupakan keuntungan untuk mengurangi resistensi hubungan Jokowi dengan kaum muslim.

Di sisi lain, pemilihan Prabowo terhadap Sandiaga Uno adalah untuk meraup suara milenial.

"Dalam konteks ini, Sandi akan lebih diperankan sebagai profesional yang dipercaya mengelola pemerintahan dan pembangunan ke depan. Serta diharapkan mampu meraup suara kaum milenial dan profesional (bukan pemilih tradisional)," paparnya.

Senada dengan Suko, Pengamat Politik asal Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo, mengatakan jika kedua Cawapres ini untuk mengisi kelemahan dari para Capres.

"Kalau kekuatan Kyai Mar'ruf mampu mengisi kekosongan narasi religiusitas koalisu Jokowi. Selama ini religius jadi sasaran tembak lawan politik Jokowi. Dengan adanya Kyai Ma'ruf ruang tembak lawan menjadi sempit karena sosok Ma'ruf s ebagai Ketua MUI, Rais A'am PBNU, dan cicit dari Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (Imam Masjidil haram)," jelas Mochtar.

"Sementara, Sandi kekuatan sebaliknya dari Kyai Ma'ruf. Dia muda, mampu membidik pemilih milenial, apalagi Sandi dekat dengan pemilih milenial. Kemudian, Sandi memiliki gaya hidup milenial dan memahami milenial, di samping kekuatan modal yang dia miliki dan juga kekuatan popularitas pasca kemenangan Pilgub DKI Jakarta," imbuhnya.

Ia pun menilai jika pertarungan nanti berjalan cukup ketat, karena kedua Cawapres itu memiliki basis pemilih besar di Indonesia. (ais)

Pilpres 2019 Cawapres