Syar'i-nya Bos Konsultan Manajemen Mantu

josstoday.com

Suasana akad nikah pernikahan Bina Izzatu Dini dan Muchlis Munibullah, Sabtu, (23/6/2018). (Ist)

JOSSTODAY.COM - Oleh Imawan Mashuri **)

MENGHADIRI perhelatan Walimatul Ursy Izza - Muchlis adalah menyaksikan ekspresi seorang tokoh konsultan Management Sparing Partner, Iman Supriyono, mantu. Memenuhi unsur anjuran kekonsultanannya: on time, sungguh-sungguh, mewujudkan mimpi, dan agamis.

Seperti pada bunyi undangannya, seluruh prosesi acara menikahkan gadis sulungnya; Bina Izzatu Dini, 24, itu, dimulai tepat pukul 07.00, di Masjid Manarul Ilmi, Kompleks Institut Sepuluh Sepuluh November atau ITS, Sabtu, (23/6/2018), kemarin. Dan berakhir tepat pukul 08.00. Tidak kurang dan tidak lebih.

Di masjid tempat dia aktif ketika masih kuliah di perguruan tinggi bergengsi di Surabaya itu, seluruh kegiatannya mengalir persis seperti urutan acara yang dituangkan.

Pada undangan yang sangat efisien karena hanya dibuat versi digital dan diedarkan hanya melalui whatssapp atau WA itu, menyebut, para undangan dimohon hadir sebelum acara dimulai untuk shalat dhuha. Dan, benar saja, hampir seluruh undangan, lebih dari seribu orang, datang sebelum acara.

Suasana ketika menanti akad nikah. (Ist)

Tamu-tamu itu, di gerbang pelataran masjid, disambut sohibul bait, bersalaman, cipika cipiki, berpelukan, laki-laki dengan Mas Iman, kemudian, saling hormat tanpa menyentuh kepada istri beserta keluarga Mas Iman yang sebagian besar adalah perempuan. Anak-anak Mas Iman memang terdiri dari enam orang putri dan dua orang putra. Demikian pula sebaliknya untuk tamu-tamu perempuan.

Di dalam masjid, yang ruang tengahnya dibelah oleh pembatas setinggi perut, para tamu lelaki dan perempuan dipisah, di situ mereka shalat dhuha, lalu bersila untuk kemudian mengikuti seluruh prosesi acara yang digelar lesehan.

Satu-satunya yang tidak sesuai materi acara adalah pengkhutbah nikahnya. Rencananya oleh Ustadz Fadhil Usman dari Universiti Teknologi Malaysia. Profesor yang dikenal oleh Mas Iman sebagai rezeki dari rangkaian sekolah Izzah selama sekolah SLTA di Malaysia itu, digantikan teman Mas Iman dari Pesantren Hidayatullah surabaya, Ustadz Amun Rowi.

Mempelai berbahagia Izza dan Muchlis. (Ist)

Izza, memang pernah di Malaysia, menamatkan SLTA-nya di SMI Hidayah, Johor Bahru. Selanjutnya merantau ke negeri lain lagi; China, seorang diri, untuk kuliah S1 di Chinesse Literature Jiangxi Normal University. Itulah sebabnya kini, Izza bekerja pada China State Construction & Engineering.

Izza yang baru menginjak usia 24 tahun ini, mengemban contoh menjadi manusia mandiri bagi adik-adiknya. Berani keluar dari kenyamanan hidup bersama orang tua sejak lulus SMP. Tapi tetap teguh dan terus menguatkan imannya sebagai muslimah di tengah pergaulan internasional. Orang tuanya memang telah berketatapan, semua anak-anaknya harus sekolah di luar negeri, di mana pun, selepas SMP. "Saya ingin anak-anak saya belajar di berbagai negara sehingga mereka kelak punya pergaulan dunia. Dan harus juga kuat agamanya supaya moderat dan menjadi rahmat bagi semesta seperti sebuah keharusannya menjadi orang Islam," kata Mas Iman empunya SNF Consulting, suatu kali.

Latar belakang Mas Iman sebagai aktivis di masjid kampus yang sangat kuat, sekolah S1 bidang teknik di ITS, dan S2 bidang manajemen, plus pilihan pekerjaan yang ditekuni sebagai konsultan dengan positioning sebagai sparing partner manajemen, mewarnai seluruh sikap hidupnya.

Suatu kali saya satu panggung ceramah dengan Mas Iman di FE Universitas Brawijaya, Malang. Plan utama dirinya yang dia jaga adalah shalatnya harus di masjid. Walaupun demikian, manajemen yang dia jadikan referensi tidak saja dari dunai Islam, bahkan juga dari tahapan-tahapan sukses serta langkah-langkah hebat perusahaan-perusahaan dari barat.

Mas Iman mendapat rezeki menantu; Muchlis Munibullah, 25, yaitu seorang pemuda yang mirip dirinya. Tumbuh dari keluarga sangat sederhana di Sragen, lalu hijrah ke Jakarta, banting tulang sendiri untuk kemudian kuliah teknik di Universitas Sudirman, dan juga melanjutkan S2 yang, juga; manajemen. Bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi dan masih kuliah lagi tentang AlQuran dan tafsir pada Sekolah Tinggi Ushuluddin Bekasi.

Muchlis, dalam prosesi nikahnya, baru disandingkan dengan Izzah --di dalam masjid itu-- setelah ijab selesai. Diawali cium tangan Muchlis oleh Izzah, dua sejoli itu kemudian bersama orang tuanya dan juga Mas Iman dan istri, menuju gerbang masjid untuk menerima ucapan selamat dari para tamu secara santai. Setelah para tamu selesai sarapan secara sederhana.

Tamu-tamu, dari berbagai strata yang hadir pagi hari itu memang tampak menjadi sangat santai. Beberapa profesor, pengusaha, birokrat, pegawai biasa dan mahasiswa tampak tidak canggung berbaur. Sejumlah direktur dari klien dan relasi Mas Iman pun langsung berbaur dengan para tamu lain.

Tamu-tamu itu tidak harus sibuk menaruh amplok ke dalam kotak sebagaimana lazimnya pada acara resepsi perkawinan. Karena dalam undangan memang sudah disebutkan untuk tidak membawa bingkisan, kado dan bunga cinta/amplop.

Demikian juga setelah acara formal selesai, di pelataran masjid itu, mereka mengambil sendiri hidangan berupa nasi bungkus daun pisang berbagai menu dan juga minuman kemasan. Di meja lain ada polo pendem, dihidangkan untuk diambil sendiri.

Suasana selepas acara, undangan menikmati hidangan. (Ist)

Tamu-tamu kemudian makan sambil lesehan, membentuk sendiri lingkaran-lingkaran kecil, bercengkarama, juga bersilaturahim karena juga masih suasana lebaran. Selesai makan, mereka membuang sendiri bekas makanan dan minuman ke dalam banyak bak sampah yang disediakan. Tidak tampak ada makanan yang mubazir berserakan.

Saya tahu, berlangsungnya acara itu antara lain diinspirasi oleh acara Pak Nadjih, tim ekonom PWM Jatim ketika mantu. Pak Nadjih bikin acara round table di Grand City tahun 2012. Mas Iman ikut hadir dan menulis acara itu yang tulisannya pernah saya baca. Dia ingin kalau mantu mengadopsi beberapa bagiannya. Dan enam tahun kemudian, kemarin, kita saksikan, Mas Iman benar-benar mantu dan mengaktualisasikan sendiri dengan bikin round floor yang khidmad itu.

Menyaksikan seluruh perhelatan Mas Iman mantu ini, saya teringat beberapa hadist, misalnya yang menganjurkan delapan langkah dalam pernikahan, yaitu: 1. Niat; 2 Hidangan tidak boleh memberatkan; 3. Mengundang kerabat dan mengumumkan pernikahan odianjurkan di masjid); 4. Tidak berlebihan dalam mengekspresikan syukur; 5. Tempat acara terpisah tamu laki dengan perempuan; 6 Acara resepsinya jauh dari kemungkaran (tidak ada hiburan yg membangkitkan syahwat), 7. Resepsi dilakukan setelah dukhul (setelah terjadinya ijab kabul); dan 8. Undangan (sesungguhnya) wajib hadir kecuali yang benar-benar berhalangan.

Iman Supriyono menerima ucapan dari kolega yang hadir. (ist)

Saya jadi membayangkan, bagaimana Rasulullah ketika menikahi Shafiyyah Binti Huyay yang hanya dengan suguhan kurma kering, pernikahannya dengan Zainab yang menyembelih seekor kambing maupun kesederhanaan ketika menikahkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib.

Tamu-tamu beriring untuk menyalami mempelai dan keluarga di gerbang masjid itu, sebelum pulang. Tidak ada musik yang mengiringi. Tapi saya seperti mendengarkan lantunan Maher Zein yang terus menurus; Barakallahu lakuma wabaraka ‘alaika wa jama’ah bainakuma fi khair......” (semoga Allah memberkahi mempelai (dan keluarganya) dan mengumpulkan keduanya dalam kebaikan. Selamat Mas Iman. Barokalloh.

**) Imawan Mashuri adalah salah satu owner, founder dan komisaris dari beberapa Group Jawa Pos dan Founder Arema Media Group.

Iman Supriyono snf consulting