Berbagi dan Ikhlas

josstoday.com

JOSSTODAY - Oleh Rully Anwar  pemimpin redaksi Josstoday.com dan Bumntoday.com **)

Tahukah apa yang saat ini terancam hilang dalam memori kita sebagai bangsa? Ya, soal sikap bersama dan keikhlasan kita dalam satu kebersamaan sebagai bangsa, yang diikat oleh nilai-nilai kebangsaan yang sama. Ada baiknya di momen hari raya kurban kali ini kita menyimak pesan besar dari kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putra kesayangannya,  hanya untuk sang khalik.

Sebuah kisah ketika Nabi Ibrahim dalam mimpinya diperintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ismail adalah putra yang sudah bertahun tahun ditunggu-tunggu karena Nabi Ibrahim tak kunjung mendapatkan keturunan. Tentu, kita yang awam ini rasanya berat dan sangat berat jika harus mengorbankan seseorang yang selama ini kita sayangi, apalagi kelahirannya kita nantikan lama. Namun, tidak demikian dengan Nabi Ibrahim. 

Tentu saja, Nabi Ibrahim tetap gunda gulana untuk menceritakan mimpinya kepada istrinya. Namun setelah berani bercerita, sang istri malah menjawab “Jika memang itu perintah Allah SWT, maka segera laksanakanlah !. Dasyat bukan? Seorang ibu yang juga bertahun tahun merindukan seorang anak rela dan ikhlas putranya disembelih atas perintah Allah. Apalagi kemudian Nabi Ismail yang sebelumnya dimintai pendapat oleh ayahnya juga bersikap yang sama untuk segera melakukan perintah Allah tersebut.
Apa yang terjadi? Ternyata ketaaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim, istri, dan putranya,  Nabi Ismail dengan menjalankan perintah Allah SWT, dibalas dengan perubahan (pergantian) Nabi Ismail dengan hewan kurban. Hingga pada akhirnya pun Nabi Ismail tidak jadi disembelih. Keteguhan serta kesabaran Nabi Ibrahim sekeluarga ini, memberikan kesadaran soal eksistensi Allah SWT adalah segalanya, bahkan segala-galanya. Allah SWT dengan segala Maha kesempurnaanNya telah memiliki alasan tertentu di dalam setiap ujian yang diberikanNya kepada seluruh hambanya.

Apa yang bisa kita petik dari kisah ini? Ya sebagai bangsa kita mestinya menyadari bangsa yang besar ini tidak akan tetap besar jika kita selalu menyombongkan diri kita sendiri, tanpa melihat eksistensi yang lain sebagai sesama warga negara. Idul Adha juga menyadarkan ke kita tentang kewajiban untuk tunduk dan mendekat pada Allah SWT. Cara mendekat kepadaNya tentu adalah mendekat juga ke sesama ciptaannya, yaitu manusia sebagai khalifah. Kita sebagai bangsa harus mengedepankan sebagai satu kesatuan anak bangsa yang mandiri dan memegang nilai-nilai kebangsaan,  kebersamaan, dan persatuan. Tidak heran jika kemudian berkurban adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berkurban itu kata kerja yang maknanya berserah diri selalu kepadaNya. 

Berkurban juga “memaksa” kita untuk kembali belajar ikhlas dan memahami bahwa segala yang ada di dunia ini fana belaka. Seperti kisah Nabi Ibrahim yang mengikhlaskan putranya, Nabi Ismail, yang sesungguhnya sangat beliau cintai. Namun, karena perintah Allah,  maka beliau rela mengurbankan putranya. Inilah potret keikhlasan dan perwujudan dari penyerahan dirinya kepada Allah SWT.

Rasanya kita sebagai bangsa harus belajar ikhlas bahwa bangsa ini memang diciptakan berbhineka, plural, dan tidak tunggal. Artinya tidak bisa kita memaksakan kehendak sesuai dengan keinginan kita. Mayoritas harus melindungi yang minoritas, dan minoritas harus menghormati yang mayoritas. Apalagi jejak sejarah kita adalah jejak sejarah persatuan yang menjadi modal besar bangsa ini lepas dari kolonialisme. Bersatu dari banyak suku, etnis, agama, dan budaya. 

Pada akhirnya, berkurban juga mengajarkan kita untuk berbagi kepada sesama. Allah SWT selalu memiliki alasan kuat untuk memerintahkan para hambanya (manusia) untuk berkurban. Bagi yang kurang mampu akan ikut merasakan bagaimana nikmatnya makan daging yang mungkin jarang mereka rasakan. Bangsa ini juga perlu saling berbagi di saat banyak kelemahan maupun kekuatan dimiliki oleh masing-masing anak bangsa yang berbhineka tadi. Saling menguatkan dan saling menginspirasi adalah proses berbagi yang dibutuhkan bangsa ini.

Tentu, ketakwaan, keikhlasan, dan saling berbagi akan menjadi modal sosial yang besar bagi kebangkitan bangsa ini demi menguatkan kembali ikatan kebangsaan kita yang akhir-akhir ini kerap diuji oleh godaan kepentingan politik sesaat.  Mari kita kembali merefleksi diri, berkaca pada diri kita, apakah kita sudah berserah diri, ikhlas, dan menyadari betapa utamanya kita harus saling berbagi demi sebuah kebersamaan dan kemanusiaan. Selamat Berkurban!. 

**) Rully Anwar adalah pemimpin redaksi Josstoday.com dan Bumntoday.com

berbagi ikhlas keikhlasan