Arum Sabil: APTRI Pembela bagi Petani Tebu

josstoday.com

Arum Sabil ketika berbicara di antara petani tebu Makassar.

JOSSTODAY.COM - Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) H.M. Arum Sabil mengharapkan organisasi APTRI benar-benar hadir sebagai pembela, pengayom dan pelindung petani, jangan menunggu petani menjerit dulu baru kemudian APTRI tampil.

“Organisasi APTRI harus benar-benar ada. Jangan sampai organisasi ini hanya ada stempelnya, kop suratnya dan papan namanya saja, atau ada hanya ketika Munas, hanya ada ketika rapat-rapat. APTRI harus hadir setiap saat untuk menjadi pendamping dan pembela bagi petani tebu dan untuk menjadi mitra yang baik dengan pabrik gula".

Harapan tersebut disampaikan Arum Sabil saat menyampaikan kata sambutannya dalam acara Pengukuhan sekaligus Pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APTRI Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (6/9) di Hotel Aryaduta, Makassar.

Di hadapan Direktur Tanaman Semusim Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gede Wirasuta, Arum mengatakan, belakangan ini banyak lahir organisasi-organisasi dengan nama dan atas nama petani. Kelahiran organisasi-organisasi tersebut patut disambut gembira dengan catatan organisasi-organisasi itu memiliki visi dan misi Pembelaan Kepada Petani.

Bahkan jika ada organisasi  yang akan muncul tumbuh dan benar-benar punya kekuatan dan kemampuan untuk menyelamatkan dan mensejahterakan petani sepatutnyalah untuk didorong bersama-sama agar menjadi lebih kuat.

Sayangnya, lanjut Arum Sabil ada indikasi mulai bermunculnya organisasi dengan nama dan atas nama petani, tapi hanya dijadikan alat legitimasi untuk kepentingan para pemburu fee impor Gula.

“Pak Gede sendiri menyaksikan bagaimana waktu itu kami berbicara secara terbuka kepada Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan serta Dirjen Perkebunan dan menyampaikan persoalan kemunculan organisasi yang mengatasnamakan petani, namun ternyata menjadi alat legitimasi untuk pengajuan izin impor gula mentah,” urai Arum Sabil.

Belajar dari pengalaman seperti itu, Arum Sabil minta agar pemerintah tidak berperan ganda. Dalam hal ini menunjuk kepada persoalan penerbitan izin impor gula mentah oleh pemerintah.

“Satu sisi pemerintah –-entah dengan pertimbangan apa-- melakukan impor gula mentah yang jelas sudah sangat melampaui kebutuhan dalam Negeri. Namun ketika impor tersebut dinilai tidak rasional,  maka dimunculkanlah orang-orang yang seolah-olah pendukung pemerintah dan dihadirkan organisasi-dengan nama dan atas nama organisasi petani tebu untuk memberikan rekomendasi ijin impor Gula Mentah dengan berbagai dalih .

Ini menjadi tidak bagus, karena  dalam jangka panjang ini akan meruntuhkan martabat bangsa serta bisa menyengasarakan sebagian besar rakyat Indonesia terutama kalau sampai terjadi ketergantungan terhadap gula impor,” katanya.

Sambutan ketua Dewan Pembina APTRI Arum Sabil pada Pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APTRI Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (6/9) di Hotel Aryaduta, Makassar.

Selanjutnya Arum Sabil juga berharap agar  jangan sampai ada organisasi yang dilahirkan dan disiapkan menjadi pasukan untuk menghancurkan pabrik gula. Indikasi tentang hal ini sudah mulai kelihatan, bagaimana ada organisasi dengan nama dan atas nama petani Tebu menyerang pabrik gula. Dibuat pabrik gula itu di mata publik menjadi tidak dipercaya, dibuat pabrik gula yang berbasis tebu itu yang sampai pada akhirnya dianggap dan Di Presespsikan tidak efisien dan harus ditutup.

“Saya melihat ini bagian dari by design agar pabrik-pabrik gula di bawah BUMN ini dimatikan, kalau sudah mati, secara otomatis, kita walaupun tanam tebu mau digiling kemana kalau tidak punya pabrik gula, yang akan muncul nanti adalah pabrik-pabrik gula yang hanya sebagai kedok untuk melakukan impor gula mentah,” tegas Arum

Arum sabil juga mengingatkan agar pabrik gula di bawah BUMN maupun swasta yang berbasis tebu sendiri maupun bermitra dengan masyarakat petani tebu agar dalam membangun kemintraan dengan petani harus benar2 tranparan adil dan jujur, serta agar selalu berbenah yaitu merawat dan merevitalisasi pabrik gula dan tanaman tebunya
agar lebih efisien dan punya daya saing.

Menurut Arum Sabil bukan tidak mungkin kelak di Sulsel akan hadir pabrik gula baru. Kalau itu terjadi, sambutlah dengan sukacita kehadirannya, namun dengan persyaratan bahwa pabrik gula tersebut bersedia menanam tebu di bumi Sulsel dan mau bekerjasama dengan petani tebu di wilayah Sulsel`

“Tetapi  kalau sampai pendirian pabrik gula itu hanya sebagai kedok untuk mengimpor gula mentah, itu sama dengan menciptakan mesin pembunuh roda perekonomian masyarakat pedesaan khususnya petani tebu yang ada di Sulsel. Menyikapi permasalahan seperti itu saya hanya berpesan agar petani bersatu dan waspada, jangan terpecah belah. Sebab, tidak ada kekuatan lahir dari sebuah perpecahan, karena kekuatan itu sesungguhnya lahir dari sebuah kebersamaan,” tegas Arum.

Sebelumnya, Ketua DPD APTRI Sulsel Andi Darmawan Paelori mengatakan pihaknya bersama jajaran pengurus DPD APTRI Sulsel –diantaranya H. Muh. Jabir Bonto selaku ketua Dewan Penasehat, Ahmad Maisyuri selaku Sekretaris dan Hj, Dahlia Lala sebagai Bendahara-- siap menjalankan amanah yang diberikan petani tebu di Sulsel untuk menakhodai organisasi DPD APTRI Sulsel.

“Amanah dan keberadaan organisasi ini adalah murni untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung program pemerintah, khususnya dalam upaya pencapaian swasembada gula, paling tidak untuk wilayah Sulsel. Karenanya kepada pemerintah provinsi kami berharap DPD APTRI Sulsel ini dapat dijadikan ,mitra strategis dalam pembudidayaan tebu di tanah Sulsel,” kata Andi Darmawan Paelori.

Menanggapi permintaan tersebut Direktur Tanaman Semusim pada Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gede Wirasuta mengatakan jika pemerintah akan berupaya memberikan bantuan dalam bentuk bibit maupun peralatan mekanisasi pertanian dalam upaya mengejar target swasembada gula tahun 2019.

“Tanpa upaya-upaya semacam itu dikhawatirkan produktivitas tebu petani akan terus tertekan, dan kita akan semakin tidak mampu mengendalikaan laju impor gula, khususnya gula rafinasi,” kata Gede.

Acara pengukuhan sekaligus pelantikan pengurus DPD APTRI Sulsel itu juga dihadiri jajaran pengurus DPP APTRI, perwakilan dari DPD APTRI Lampung, DPD APTRI Jabar, DPD APTRI Jateng, DPD APTRI Jatim dan DPD APTRI PTPN 10, DPD APTRI PTPN 11, direktur Produksi  PTPN XIV, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulsel dan Ketua DPRD Kabupaten Takalar. (ean)

gula aptri arum sabil petani tebu pabrik gula